Di Suatu Saat Nanti


Ingatkah kau, bahwa dulu kita sempat punya mimpi sederhana.
Kelak saat itu kita akan saling berbagi cerita tentang banyak hal yang telah kita lewati. Tentang keluarga yang kelak akan kita bangun bersama, tentang anak-anak kecil yang berlari di setiap ruang lapang di rumah, tentang perempuan yang membuatkan kopi di pagi hari, menyiapkan sarapan dan koran pagi itu.

Kita pun pernah berencana.
Suatu kali, nanti, kita menghadang pantai bersama. Menggelar tikar, menyingkapkan tangan mu di balik punggunku. Dan di sela-sela itu semua, kita akan berbagi hal dan filosofi soal hidup.

Atau kau ingin kita pergi ke kebun teh. Bertemu di sisi kebun yang lain lagi.
Anak kita meneriakan kegembiraan nya yang meluap. Dan aku membawa si kecil yang lain untuk memetik sepucuk teh itu.
Itu keinginan kita.

Suatu hari kita akan merebut siaran TV di rumah dari para perempuan dirumah kita.
Menyaksikan pertandingan sepak bola. Mendengar suara optimis tentang tim kebanggaanmu. Dan mungkin saja, anakku akan lebih mempercayaimu daripada aku.
Dia akan membela tim kebanggaanmu, dan akan mempecundangi tim kebangaanku.

kelak aku yang akan bernyanyi.
Kau dan anak kita bermain musik.
Anak-anak kita menari, atau bernyanyi di balik pelukan Ibu mereka, yaitu Aku.

Kalau ada kesempatan, di Hari Raya nanti. Kau akan menungguku untuk selesai menyiapkan resep masakanhari itu.
Aku mau bertaruh, masakan Ku akan jauh lebih lezat dibandingkan masakan siapapun yang pernah kau coba.
Aku beranai, karena kau yang sering mendengungkan pujian itu di telingaku, ketika aku mulai memasak.

Suatu ketika nanti.
Aku akan menjadi sepertimu. Dan kau akan menjadi sepertiku
Kita melenggangkan kesempurnaan diri kita.
Anak-anak kita akan tumbuh menjadi yang terbaik.
Seperti kau selalu mengatakan, 'aku yang terbaik'—untukmu.
kau akan menlingkarkan lenganmu di pinggangku sembari berkata, "Aku bangga pada impian kita" .

Meski waktu hanya memberikan kesempatan yang begitu singkat untuk kita berdua.

Kecewa kah kau?
Aku? Tidak akan.
Aku terlalu bersyukur mendengar setiap cerita dan keinginanmu. Membuat kita memiliki mimpi bersama.
Meski kadang, sulit menemukan keberadaanmu.
Tapi aku tahu, dimensi tak bisa membohongi langkahmu yang kadang terasa begitu dekat.
Kau terlalu nyata sebagai bayang-bayang.
Kau fatamorgana indah di padang Impianku.

Suatu ketika nanti.
Kita akan duduk bersama-sama.
Kau, aku, anak kita bersama. Dengan impian kita dahulu.
Melakukan segala hal—seperti kita menikmati segala kesenangan dalam hidup.
Bahagia seperti tak ada lagi hari esok.
Tertawalah samapai kau menangis dipelukan ku.
Tertawa, karena kebahagiaan yang tak pernah habis.

Kau tersenyum.Aku bahagia. 
"KITA" yang sebenarnya hanya impianku saja.

Komentar

Postingan Populer