Ketika aku ingat semuanya...
Aku tak habis berpikir, bahwa aku hanya sekejap dapat mencintaimu.
Tapi semua yang terjadi hanya menjadi alur kebalikan nya.
Aku mencintaimu saat lembutnya hatimu menyentuh erat tanganku dengan keyakinan.
Tidak dapat ku pungkiri, setengah tahun sudah alur itu berjalan.
Dikurung nya aku dalam cintanya itu.
Kubela tanpa harus aku bertanya-tanya.
Ku akui ku kuat saat ku bersama aliran cintanya.
Bukankah cinta memang tak pernah butuh alasan, meski cuma suatu kata?! Sepertinya, iya…!
Aku masih ingat...
Kemarin ketika kau ucapkan cinta, semua terlihat nyata.
Ternyata itu hanya fatamorgana bayang sadarku saja.
Terpendar begitu saja dari cangkang keakuanku yang merama-rama di tepi senja.
Hari ini, semua nya berubah menjadi getar yang tak beraturan irama nya.
Tapi sungguh, getar itu tak pernah hilang. Rindu itu pun masih tidak mau lepas dari diri ini.
Aku tetap ingat...
Seharusnya rindu ini tak ku pinggirkan di sisi ego ku.
Jarak yang mengunci langkah kaki, serta semua gelisah dan gundahku harusnya bisa kupenuhi sesaat saja.
Menebar keteduhan, meremas kecemasan...
Meninabobokan tangis semalaman.
Aku terus ingat..
Di dekatmu rinduku tumpah.
Mengeja harmoni detik yang berlalu dengan kemesraan yang menggugah indah.
Mengantar setiap bagian tanpa jengah ke sisi rinduku.
Berdua kita saling memakaikan perhiasaan keagungan cinta itu.
Menasbihkan rindu yang lama tersembunyi dalam diam tunduk teduh pada keakuan perasaan.
Aku selalu ingat...
Setelah menyelam lebih dalam, mendengar lebih jauh, dan memandang lebih luas. Aku tahu, semua yang indah kebanyakan adalah kasat mata. Seperti layaknya bau harum parfum, menenangkan, menggoda, membuat kita terbuai, tapi tak bisa digenggam. Dan kemudian kita putus asa ketika berusaha menangkapnya.
Tidak pernah akan tidak ku ingat...
Semua yang terlarang adalah nyata, semua yang terlarang adalah upaya untuk membohongi kebenaran.

Komentar
Posting Komentar