Akui Saja Perasaan Kita
Pagi ini redup. Seperti matahari yang muncul malu-malu, aku menyembunyikan perasaan di hadapanmu.
Bahkan ketika jarak tak lagi jadi batas. Aku membungkus suara, bahkan nafas. Khawatir detak jantungku pun menyatakan isyarat.
Di hadapanmu kata-kata menjadi lumpuh. Aku lupa memilih abjad. Atau bisa jadi, aku lupa segalanya. Pesonamu mengaburkan kesadaranku.
Kau juga salah. Kau seolah tak mau tahu. Mengertikah arti langkahku yang membelakangimu pelan-pelan? Karena, aku tak mau pergi darimu, sebenarnya.
Tapi kau bilang, pergi adalah cara terbaik untuk bersembunyi, kalau tak mau mati karena takut tak dicintai.
Kalau kau menggantung harapan. Dam aku mengirim perasaanku lewat udara. Semestinya kita sudah saling tahu.
Salah satu di antara kita pasti sudah tak jujur. Kau atau aku?
Kalau ini memang permainan. Harusnya ada yang memulai lebih dulu. Apa kita perlu mengundi untuk menyatakan perasaan masing-masing?
Ayolah. Katakan sekali ini saja. Apa kau mau terperangkap selamanya?
Tak ada cinta di balik gelas kaca yang abadi. Kau perlu keluar, dan menyeberang kesini.
Aku menghentikan langkah sekarang. Berarti jarak kita tak lagi lebar. Mau kah kau menyusul ke tempatku menunggu?
Kita yang saling berdiam diri, tak akan tahu seperti apa cinta itu sebelum saling mengakui.

Komentar
Posting Komentar