Tak mengucap
Sayang memang kalau harus berpisah setelah berdua sengaja menyesatkan langkah. Sayang memang kalau harus melupakan angin-angin baik setelah berdua sengaja saling menipu.
Sebenarnya bisa, asal ada gelombang yang mengalah, gelombangku, atau milikmu. Tapi sayangnya kamu ingin di atas karena memandang cerita kita adalah kesempatan baik menebus kelemahanmu selama ini, seperti yang pernah kamu ceritakan. Sayangnya pula, saya tidak mengerti caramu dan tidak mengizinkan untuk membuat cerita yang sudah dibuat-buat ini semakin dibuat-buat.
Kalau memang harus tersesatpun, sudahlah. Tapi pandangan jijik dari mata pagimu membuat semua hal terasa sampah dan buang-buang waktu. Kalau memang tidak percaya lagi, sudahlah. Setidaknya saya pernah membawa kamu ke fantasi yang nyata dan tersentuh.
Mungkin darah mengandung apa yang ada di Albothyl, kalaupun dada ini dibelah, hanya luka luar disengaja yang terlihat, sementara di dalam sana baik-baik saja.
Menunjukimu arah adalah impian saya. Sayang memang saya bukan peta. Memberikanmu ketenangan adalah tujuan saya. Sayang memang saya bukan setumpuk serotonin di isi perut cokelat. Kali ini saya mundur. Tidak ucapkan terima kasih, karena saya bukan sampah.
Tuhan punya maksud. Tuhan punya imajinasi yang maha.

Komentar
Posting Komentar