Berjumpa

Iya benar, itu adalah dirimu yang dulu. Rembulan yang berbinar di matamu pun masih sama. Namun aku melihatnya kini kau berbeda di antara silang waktu yang dilumuri usia, waktu semakin dewasa dan menua.
Aku ragu, melihat senyummu sepertinya ada kecurigaan yang kau simpan di balik raut wajahmu. Aku tak perlu bertanya kepada orang-orang di sekitarmu, mungkin saja rasa cemas ini tak mampu kau sangkali sebagai alasan dari jawabanmu atas pertanyaanku.
Aku hanya menyaksikan kenangan yang mungkin saja sudah kau lupakan. Tanyaku, di saat melihat anak kecil bermain di hadapanmu. Mmm... mungkin saja takdir yang mengantarmu kembali menemuiku sebagai isyarat bahwa mimpi bukan hanya sebatas masa lalu dan menanti masa depan, melainkan mimpi adalah perjalanan waktu.
Akankah kita kembali untuk saling merapikan?

Komentar
Posting Komentar