Jangan Dulu
Jangan dulu memintaku menanggalkan pakaian.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuatmu kian
gencar mengharap keremangan ruang—atau juga
hujan yang hatam caranya membangun kegigilan.
menetaplah saja. dan tentu kau boleh
membagiku kesedihan di dadamu.
separuh, atau seluruh.
aku ingin ikut mengecap asin airmatamu lalu
menyekanya dengan jemari selembut kasih ibu.
maka jangan dulu memintaku berdansa di atas tubuhmu hanya Karena,
kau tahu mahkotaku sudah terambil seseorang yang lalu.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuat kepandiranmu makin tak berdaya.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuatmu sibuk menerka-nerka bagaimana
kepayahanku menghadapi keterbangan.
menetaplah saja. dan tentu kita bisa
saling membaca kata-kata yang tak sempat digelar lidah tanpa perlu kau sibuk mendikte warna pakaian dalamku.
aku ingin menjadi satu-satunya pembaca tulisan di matamu
yang kerap diasingkan orang-orang itu.
maka jangan dulu memintaku menyerahkan pakaian pada gigil lantai.
aku tidak ingin ketelanjanganku semakin menghapus jarak antara tubuhku dan bibirmu.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuatmu mabuk dan meracau.
menetaplah saja. jangan dulu memintaku menanggalkan pakaian.
pinggulku bebatuan cadas. aku tidak ingin kau terluka saat coba menyusupi kesepianku.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuatmu kian
gencar mengharap keremangan ruang—atau juga
hujan yang hatam caranya membangun kegigilan.
menetaplah saja. dan tentu kau boleh
membagiku kesedihan di dadamu.
separuh, atau seluruh.
aku ingin ikut mengecap asin airmatamu lalu
menyekanya dengan jemari selembut kasih ibu.
maka jangan dulu memintaku berdansa di atas tubuhmu hanya Karena,
kau tahu mahkotaku sudah terambil seseorang yang lalu.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuat kepandiranmu makin tak berdaya.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuatmu sibuk menerka-nerka bagaimana
kepayahanku menghadapi keterbangan.
menetaplah saja. dan tentu kita bisa
saling membaca kata-kata yang tak sempat digelar lidah tanpa perlu kau sibuk mendikte warna pakaian dalamku.
aku ingin menjadi satu-satunya pembaca tulisan di matamu
yang kerap diasingkan orang-orang itu.
maka jangan dulu memintaku menyerahkan pakaian pada gigil lantai.
aku tidak ingin ketelanjanganku semakin menghapus jarak antara tubuhku dan bibirmu.
aku tidak ingin ketelanjanganku membuatmu mabuk dan meracau.
menetaplah saja. jangan dulu memintaku menanggalkan pakaian.
pinggulku bebatuan cadas. aku tidak ingin kau terluka saat coba menyusupi kesepianku.


Komentar
Posting Komentar